Ketika pertama kali seorang menjadi mahasiswa pendidikan Bahasa arab, bisa dipastikan yang ditemuinya di bangku kuliah hanya keterbelakangan mapel bahasa arab. Dan hebatnya hal itu berlanjut setelah dia selesai kuliah dan menjadi guru.
Yah, meski bahasa arab adalah mapel senior, mengingat mapel ini sudah diajarkan di pesantren-pesantren sebelum ada sekolah, tapi sampai sekarang tetap menjadi mapel yang paling ketinggalan.
Ada banyak hal yang menjadi kendala kemajuan mapel bahasa arab, dan setidaknya ada dua hal yang perlu digaris bawahi:
Pertama, komersilitas yang minim. Cara berfikir masyarakat bahwa sekolah adalah lompatan untuk bekerja adalah hal yang sangat mempengaruhi animo mereka untuk menggeluti dan menekuni mapel bahasa arab. Berbeda dengan saudara-saudaranya, mapel bahasa khususnya bahasa inggris, betapa masyarakat begitu antusias bahkan berlomba untuk menguasainya karena sisi komersilnya yang begitu menjanjikan. Dan tentu saja, jika suatu mapel menjadi animo masyarakat maka hal itu menjadi lahan yang menjanjikan bagi pelaku bisnis/ jasa. Maka lahirlah inovasi-inovasi pembelajaran yang meski berlatar belakang bisnis untuk mengeruk keuntungan, tapi memberi efek positif pada gairah belajar mapel itu sendiri.
Kedua, minus media pendukung. Media yang cenderung diartikan dengan alat-alat grafis, fotografis atau elektronik untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi baik visual maupun verbal dalam kehidupan sehari-hari di luar sekolah akan sangat mendukung pembelajaran suatu mapel di kelas. Coba lihat disekeliling anda, adakah tulisan atau gamabar yang mendukung mapel bahasa arab? Dan kenyataan akan berbalik begitu yang ditanyakan adalah yang mendukung bahasa inggris, banyak sekali tulisan atau gambar, apalagi film, yang dengan mudah didapat dan ditemui sehari-hari.
Sebenarnya, meski banyak kendala yang menghalangi kemajuan mapel bahasa arab, ada hal- hal yang yang hanya dimiliki mapel ini yang tentunya menjadi nilai lebih. Pertama, mayoritas penduduk indonesia yang beragama islam mengharuskan penguasaan ilmu-ilmu agama yang tentunya tidak bisa lepas dan tidak bisa maksimal tanpa bahasa arab. Hal ini sebenarnya jika dipublikasikan dengan serius akan sangat membantu untuk meningkatkan animo masyarakat untuk memperhatikan atau setidaknya mencoba memperhatikan mapel ini, apalagi untuk yang sudah mempunyai nilai religius dalam hidupnya yang tahu bahwa belajar adalah suatu amal ibadah yang tentunya akan berlipat sekian pahalanya jika yang dipelajari adalah mapel yang terkait Al qur’an dan Al hadits.
Kedua, adanya pendidikan luar sekolah seperti TPA dan Pondok pesantren yang bisa dipastikan menerapkan mapel bahasa arab meski dengan intensitas yang berbeda tapi pasti akan membantu (memaksa) untuk menguasai mapel ini. Tinggal bagaimana membuat pembelajaran mapel bahasa arab di TPA dan Pondok pesantren menjadi hal yang menyenangkan untuk siswa dan bagaimana menarik antusias masyarakat untuk mau masuk di TPA dan Pondok pesantren.
Dan, kementerian agama yang tentunya berwenang mengurus dan bertanggung jawab akan kemajuan mapel ini, akan sangat terhormat jika bisa memajukannya dengan langkah-langkah yang serius. Menjembatani lahirnya forum semacam MGMP misalnya, bisa dilakukan Kemenag di tiap-tiap daerah, paling tidak untuk forum berbagi pengalaman dan bersama-sama menyelesaikan permasalahan yang dihadapi, bukan malah menunggu mapel ini meninggal.
OLEH :IBNU KAAB